Wallpaper Download
Showing posts with label Semester 4. Show all posts
Showing posts with label Semester 4. Show all posts

Tuesday, March 15, 2011

Jomblo itu . . .

Menemukan film untuk ditonton bersama oleh orang-orang yang suka jenis film berbeda itu sulit. Tidak perlu contoh, gue yang lebih suka ke jenis film komedi dan berharap sepanjang film ketawa guling-guling mungkin akan malas-malasan nonton film horror, yang merupakan jenis tontonan favoritnya si N. Dan si N pun mungkin bakal tidur lelap di tengah film jika diajak nonton film-film action yang jadi gacoannya si K.

Jadilah malam itu, Gue, Novi, dan Kiki memutuskan mengambil jalan tengah, nonton film Drama. Dengan begini tidak ada pihak yang merasa dirugikan ataupun diuntungkan. Film yang kita tonton merupakan film yang dibicarakan cukup hangat di industri film dalam negeri tahun lalu. Judulnya cin(T)a. Bercerita tentang dua orang beda agama yang saling jatuh cinta, dimana aktris yang main di film itu, menurut gue, lumayan cantik dan mendayu-dayu. membuat gue mengeluarkan pernyataan seperti ini.

“Haduh, jadi pengen punya pacar…”

Dua temen gue yang lain melirik. Dan tiba-tiba Novi menyela.

“Haha, makanya jangan Jomblo terus dong.”

Gue merengut. “Jomblo itu pilihan.” Kata gue.

“Pilihan, atau memang lo nya aja yang ga laku?” Serunya cekikikan. Si Kiki juga ikutan ketawa.
“Udah deh, kalo jomblo ya jomblo aja.” Lanjutnya lagi.

Gue diam dan berpikir. Gue benci diejek. Semua orang juga pasti begitu. Dan gue benci diejek oleh orang yang sebenarnya, you know, sama menyedihkannya dengan gue.
Maka gue pun angkat bicara.

“lebih baik Jomblo, daripada pacaran tapi hampir tiap hari dicuekin.”

Mendengar itu, tawa cekikikan Novi reda. Jelas sekali, dia adalah korban kurang kasih sayang dari pacarnya yang apatis. Mulutnya terkatup tiba-tiba. Matanya memandang gue, meminta agar kata-kata gue selanjutnya tidak keluar. Tapi gue harus mengingatkan temen gue ini, bahwa kita manusia, sebenarnya sama-sama lemah. Sebaiknya tidak memulai mengejek satu sama lain.

“Jadi ya Nov, dunia ini dipenuhi terlalu banyak orang yang cuek. Walaupun ada beberapa yang perhatian, tapi kebanyakan teman-teman gue di kampus itu cuek, lingkungan gue cuek, keluarga gue apalagi. Apa jadinya kalau pacar gue sendiri juga seperti itu? Lebih baik jomblo saja dulu daripada punya pasangan yang bisanya cuma buat makan hati atau membuat kita galau di twitter tiap malam, hoegh, malu-maluin saja.”

Novi diam. Mulutnya masih terkatup rapat. Mungkin lagi bersiap menyemburkan api. Gue seakan-akan melihat asap menggepul keluar dari kepalanya. Gue merasa sebentar lagi akan gosong, tapi gue tetap melanjutkan bacotan gue.

“Jika lo tanya mengapa gue masih juga jomblo selama hampir dua tahun ini, itu mungkin karena orang-orang yang belakangan gue suka, seperti si M, si D, dan si C, semuanya adalah jenis cewek yang menjadikan cuek sebagai perhiasannya. Yang seperti itu bukan yang gue cari.”

“Lo berbicara tentang diri sendiri, atau menyindir gue?” Tanya Novi dengan nafas yang tidak lagi teratur.

“Well, gue cuma menjawab pertanyaan tadi ‘Jomblo itu pilihan atau memang karena gue ga laku?’" Kata gue pura-pura polos. “Lo pikir gue nyindir lo gitu? Pacar kamu si Remi itu, dia kan kelihatan perhatian sekali. Ya kan? Perhatian sekali. Yeah.” 

“Entahlah,” kata Novi.

Kita pun melanjutkan menonton, tapi tanpa fokus. Si Kiki sibuk dengan handphonenya, fokus Novi mungkin sudah tidak lagi ke film, gue juga. Gue hanya bingung, sikap cuek dari orang lain merupakan hal yang sangat gue benci seperti gue membenci penyakit menular. Kenapa masih saja ada orang, seperti si Novi ini contohnya, yang mati-matian bertahan dari tekanan akibat sikap cuek itu, dari pacar sendiri lagi.

Gue ga habis pikir.

Mungkin gue harus terus belajar untuk memahami perasaan orang lain hingga gue ngerti dengan hal-hal seperti itu.

Thursday, March 3, 2011

My Teenage Lyrics

I haven’t been able to find the absolute words for what I’ve feel before I found this song lyrics:

Crazy-Simple Plan

Tell me what’s wrong with society
When everywhere I look I see
Young girls dying to be on TV
They won’t stop ‘til they’ve reached their dreams
Diet pills, surgery
Photoshop pictures in magazines
Telling them how they should be
It doesn’t make sense to me
Is everybody going crazy?
Is anybody gonna save me?
Can anybody tell me what’s going on?
Tell me what’s going on
If you open your eyes
You’ll see that something is wrong

I guess things are not how used to be
There’s no more normal families
Parents act like enemies
Making kids feel like it’s world war III
No one cares, no one’s there
I guess we’re all just too damn busy
Money’s our first priority
It doesn’t make sense to me

Tell me what’s wrong with society
When everywhere I look I see
Rich guys driving big SUV’s
While kids are starving in the streets
No one cares
No one likes to share
I guess life’s unfair

I think that the lyrics really is a good way of telling the truth about society and how it puts so much pressure on some people and it’s plain sight but nobody does anything about it. Really reflected my teenage life.

And then, it’s been a long time I didn’t listen to Keane song, Everybody’s changing. When listen to this song again today, arghh it feels like there’s something that stabbed me precisely at the bottom of my heart. It’s really what happening to me. 

Everybody’s Changing-KEANE

You say you wander your own land
But when I think about it
I don’t see how you can
You’re aching, you’re breaking
And I can see the pain in you eyes
Says everybody’s changing
And I don’t know why

So little time, try to understand that I’m
Trying to make a move
Just to stay in the game
I try to stay awake and remember my name
But everybody’s changing
And I don’t feel the same

You’re gone from here
Soon you will disappear
Fading into beautiful light
‘cause everybody’s changing
And I don’t feel right

This lyric reflects the truth about life. Nothing remains constant, everybody’s changing and it will always happen, we have to accept it, wheter we are happy or not. 

As we know, the day has passed by so fast, that’s why, no matter what happened, we must face this world, face towards the reality that you have been walking on. Just like me, people around me (especially my family and my friends) have been changing so far. My mom, my dad, my friend, my classmate, it just feels like I don’t know them anymore. They have a new life. I want to survive, even though everybody and everything is changing.

I just realized, if everybody and everything is changing, why don’t I change myself too? Why don’t I change my thought too? And why don’t I change my life too?

Meet the brand new me!

19 days before march 23th.



Wednesday, March 2, 2011

Q & A

Harusnya gue ga akan menulis hingga minggu depan. Tetapi ada satu pertanyaan tentang blog yang hari ini gue terima dari ‘Teman’ gue. Pertanyaan yang menganggu dan sangat perlu untuk dijawab.
Pertanyaan itu datang dari ‘teman’ gue yang berambut panjang dan berkacamata bingkai tebal. Katanya sih teman, tapi kelakuannya sinis melulu. Tadi pagi, dia bertanya seperti ini:

“Kenapa Blog kamu itu, hampir semua isinya curhat. Dear diary…oh yeah, isi dengan sesuatu yang bermanfaat kek. Apa blog memang harus diisi dengan tulisan tentang diri kita sendiri, terus menerus?”

Mendengar pertanyaan ini, gue menghela nafas panjang. Gue akan menjawab dengan melemparkan pertanyaan.

“Sebenarnya tahu enggak apa Blog itu?”

“Sebenarnya tahu enggak sih, pada awalnya Blog itu diciptakan untuk tujuan apa?”

Kalau tidak tahu jawabannya, gampang, tinggal buka saja kamus atau buku-buku tentang sejarah Internet. Temukan disitu bahwa Blog itu sama saja dengan catatan/diary/jurnal pribadi hanya saja dalam bentuk digital online. Dan memang pada awalnya istilah ‘Blog’ juga mengacu kepada suatu website yang khusus untuk keperluan pribadi pemiliknya. Itulah yang membedakan antara istilah “Site” dengan “Blog”. Walaupun sekarang penggunaan blog sudah meluas ke segala hal, contohnya sebagai tempat berbagi berita, informasi, pemasaran, tempat download, dan lain-lain, toh itu hanya karena jauh lebih mudah untuk membuat blog daripada website. Pertimbangan itulah yang membuat banyak orang memanfaatkan blog untuk fungsi yang lebih luas.

Jadi kalau mengacu kepada pengertian blog itu sendiri, jelas sekali apa yang gue tulis disini sudah sangat tepat. Memangnya ada yang salah dengan bercerita tentang diri sendiri? Kalau memang tidak suka, ya tidak usah ketikan alamat blog ini di tab address browser. Beres kan? Perlu diingat lagi bahwa Blog berbeda dari situs jejaring sosial. Di blog, informasi hanya akan didapat oleh orang yang ingin mendapatkannya. Jika seseorang menulis sebuah entry di blog, tidak akan ada pemberitahuan melalui email, sms, atau apapun ke kita. Beda dengan situs jejaring sosial, dimana komentar-komentar orang bisa berseliweran di Home ataupun timeline, tidak peduli kita suka atau tidak.

Jadi, buat si rambut panjang yang berkacamata bingkai tebal, kalau memang tidak suka dengan apa yang gue tulis, ya ga usah baca blognya dong, beres kan. Lagipula kan sah-sah aja gue mau nulis apa selama itu tidak merugikan orang lain. Kalau masih juga tidak suka dengan aspirasi yang gue tuangkan melalui tulisan ini, saran gue, daripada anda sibuk mengkritik orang lain, ada baiknya anda buat saja sebuah blog sendiri, dan tulislah sesuatu yang anda inginkan. Daripada anda mencoba menyuruh orang lain untuk menulis seperti yang anda mau, bukankah lebih baik anda yang menulis sendiri.

Mengkritik orang lain itu penting, tapi menawarkan solusi kepada orang lain itu jauh lebih penting.
Sekali lagi buat si rambut panjang kacamata bingkai tebal, buatlah Blog sendiri dan tunjukan kepada gue bagaimana seharusnya blog itu ditulis.

Thursday, February 17, 2011

Positively No Smoking


Cause 1

Awal dari rasa sentimen gue dengan rokok sebenarnya sudah dimulai dari lima belas tahun lalu. Waktu itu nominal lima ribu rupiah masih terasa begitu tinggi, apalagi buat gue yang saat itu masih berumur lima tahun.

“Ini buat aku?” Tanya gue kegirangan ketika bokap menyerahkan selembar uang lima ribuan baru. Saat itu gue memang lagi butuh uang untuk beli lotere berhadiah mainan Gundam.

“Beliin Rokok dua bungkus sana. Kalau ada sisanya, ambil saja.” Jawab bokap gue.

Yang ada di pikiran gue yang masih kecil waktu itu adalah, ternyata, bagi bokap gue, rokok lebih penting dari kesenangan anak sendiri.

Yah, pola pikir gue memang masih sederhana. Tapi seandainya saja bokap gue bukan perokok berat, uangnya pasti bisa dialokasikan lebih banyak buat uang jajan gue.

Cause 2

Enam tahun kemudian, gue sudah duduk di kelas 6 SD. Suatu ketika, gue bersama tiga orang temen gue, yang bandel-bandel, nongkrong di kantin belakang sekolah (SD gue punya tiga kantin, dimana kantin belakang adalah kantin yang jauh dari pantauan guru). Salah satu temen gue membawa sebungkus rokok, hasil nyolong punya bokapnya. Dia membagikan rokok itu satu satu ke gue dan ke dua lainnya. 

“Ini gimana cara makenya?” Tanya gue waktu itu. Ragu dan agak tidak tertarik.

“Bakar ujungnya, kemudian hisap.” Kata temen gue yang punya rokok itu. Tampak dua temen gue yang lain sudah menyalakan rokok. Asap mengepul di ruangan kantin.

“Hanya dihisap?” Tanya gue. Mereka Cuma mengangkat alis. Sesekali mengeluarkan asap dari hidung. Hebat bener bisa keluar asap dari hidung, pikir gue waktu itu. Untung ga dari pantat.

Gue menghidupkan pemantik api dan menyalakan rokoknya. Kemudian gue letakan ujung rokok itu ke mulut, dan mengikuti instruksi temen gue tadi, menghisap rokoknya.

Tenggorokan gue serasa terbakar.

“Uhuk..uhuk..uhuk..” Gue batuk dengan hebat. Mata gue berkunang-kunang.

Semua temen gue ketawa. “Goblok, Asapnya jangan ditelen!”

Gue mematikan rokok itu dan membuanya ke tong sampah. Ruangan kantin dipenuhi tawa membahana. Tapi entah mengapa, itulah untuk pertama kalinya gue tidak merasa malu ketika ditertawakan. Malah gue bersyukur, gara-gara hal itu, pandangan gue kepada sesuatu bernama rokok menjadi lebih buruk dari sebelumnya.

Ada orang yang bisa menjelaskan ke gue apa enaknya makan asap?

Cause 3

Gue sedang dalam perjalanan naik bus dan disamping gue duduk laki-laki separuh baya dengan rokok di tangannya. Gue bukanlah orang yang gampang mabuk perjalanan. Lain halnya jika gue menghirup asap rokok. Gue bisa jadi mual dan pusing. 

Gue membuka jendela bus dan membalikan muka ke arah jendela, berharap mendapat angin segar. Tapi entah disengaja atau tidak, asapnya terus saja mengarah ke gue.

“hukk, uhuukk.” Gue batuk pelan. Takut menyinggung si perokok. Tapi rokoknya tetap tidak dimatikan. Gue melirik ke arahnya, memperhatikan ekpresi puas dari wajahnya karena rokok itu, kemudian gue melihat dia menghembuskan kepulan asap dari mulutnya, menerpa wajah gue.

“Uhukk, uhukk, oekk.” Gue refleks batuk. Karena tidak tahan lagi, gue batuk keras-keras agar dia sadar rokoknya itu baru saja meracuni paru-paru orang ganteng.

Dia memandang gue. “Maaf.” Katanya sambil memindahkan rokoknya dari tangan kiri ke kanan.
Dua menit kemudian, asap kembali menerpa wajah gue. Gue memandang ke samping dengan geram. Yang gue lihat hanya wajah puas dengan mata merem melek, dan hidung yang mengeluarkan asap.
Gue baru tahu kalau merokok ternyata bisa membuat orang jadi acuh tak acuh.

Cause 4

Gue masih ingat, waktu kelas sebelas, gue pernah punya teman wanita yang menolak cinta seorang cowok yang gue anggap ganteng. Karena akal sehat gue tidak bisa menerima hal-hal seperti itu, gue pun bertanya kepada orang yang bersangkutan.

“Aku bingung, kenapa sih kamu nolak dia?” Tanya gue penasaran. Guru matematika saat itu sedang berhalangan hadir sehingga ada dua jam kosong yang selalu dimanfaatkan oleh sebagian siswa untuk ngobrol.

“Kenapa bingung? Apa ada yang aneh ya?’ Tanyanya balik.

“Maksudku, si L itu kan, Ganteng. Kelihatannya baik lagi. Dia juga pintar kan? Terus terang aku kagum dengan dia, apalagi kalo main voli.”
 
“Oh haha.” Dia tertawa. “Ya aku juga kagum. Sedikit.”

“Terus?”

“Ya belum mau pacaran aja.” Katanya. “Lagipula, dia merokok.”

“Kenapa kalau dia merokok?” Gue semakin penasaran.

“Haha, deket ma orang yang merokok aja ga betah, apalagi dijadiin pacar.”

“Oh hahaha.” Gue ikutan ketawa. Tentu saja, gue bukan perokok. “Jadi, bukan perokok merupakan kriteria cowok idaman?”

“Bisa dibilang begitu lah.”

“Bagus, kalo gitu aku masih punya kesempatan.” 

“Hah apa?”

“Enggak! Enggak!” Gue memalingkan muka.

Dan pada akhirnya, sadar atau enggak, keputusan untuk tidak merokok memberikan banyak keuntungan yang tidak disangka-sangka buat gue, juga untuk orang-orang di sekitar gue.
Gue bangga menjadi orang yang tidak merokok.


Sunday, February 13, 2011

Badai (yang) Telah Berlalu

Apa masalahnya sudah selesai? Berapa lama stres yang diakibatkannya?

Udah dong…! (suara tawa membahana). Dan untuk stress yang menjengkelkan itu, tiga hari aja rasanya cukup. Tiga hari saja rasanya cukup untuk membuat gue lebih banyak berdiam diri seperti orang bego. Cukup untuk membuat gue memproduksi asam berlebih dari raut wajah gue. Sangat cukup untuk mengurangi jumlah orang-orang galau di twitter (cowok menggalau di twitter is so gay).

Stress itu membuat kita jelek luar dan dalam, dan tentu saja gue ga mau menambah daftar kejelekan yang gue punya dengan memelihara stress lebih lama. (emangnya tuyul dipelihara)

Apa dan siapa saja yang membantu menyelesaikan masalah dan stres itu?

Waktu, dan tiga orang baik yang memberi dukungan moral. Mungkin tidak ada niat langsung dari mereka untuk membantu, tapi gue hargai itu. Mencari kesibukan? Ya itu kadang –kadang mampu mengalihkan pikiran gue sejenak dari stress, tapi “mencari kesibukan” juga mempunyai efek samping berupa kelelahan, dan kelelahan punya kaitan yang erat dengan rasa bosan, perasaan tidak enak, atau dampak terburuk : menurunnya daya tahan tubuh. Atas dasar itu gue menambahkan satu hal lagi yang membantu meredakan stress psikologis yaitu Nutrisi. Vitamin B kompleks dan Vitamin C dalam multivitamin serta protein dan kalsium dari susu yang gue konsumsi bukan hanya membantu gue menghindari penyakit yang rentan menyerang di saat stress, juga menjernihkan pikiran gue dari segala prasangka, kecewa, dan perasaan dikhianati.

Apa pelajaran yang dapat kamu petik dari masalahmu itu?

Pepatah lama tetap berlaku. Ada hikmah di balik setiap masalah. Pesan moral yang dapat gue petik:

-Jangan terlalu mengharapkan bantuan orang lain untuk menyelesaikan masalahmu sendiri

-Dan jika ada yang membantu, hargailah ia dengan memperlakukannya sebaik mungkin.

Khusus untuk tiga orang yang menanyakan keadaan gue di saat sulit kemarin itu, Insya Allah, ada kado di hari ulang tahun kalian. ^_^ Perbuatan baik selalu diikuti balasan yang yang baik, benar begitu kan?

Friday, February 11, 2011

120 Pieces Of My Movie Collection

Berikut daftar film-film yang berhasil gue kumpulkan dalam 2 bulan terakhir, dalam berbagai format seperti (Mkv, Avi, Dat, Rmbv, Flv, mpg4), dengan size berkisar 300 MB-1,5 GB. Berminat?

Oh iya, semua film dibawah ini soft copy.

1.3 Hari Untuk Selamanya
2.3 Idiot
3.21

4.500 Days of Summer
5.A Beautiful Mind
6.Adventureland
7.Alvin & the chipmunks 2
8.American Pie : Beta House
9.American Pie : Book of Love
10.Avatar

11.Balls of Furry
12.Battle Royale
13.Battle Royale 2
14.Black Swan

 15.Bolt
16.Cast Away
17.Cinderella Story 2
18.Clash of the titans
19.Cold Prey
20.Daysbreaker
21.D'day The  Earth  Stood Still


22.Dead Snow
23.Death Note Movie : First Name
24.Death Note Movie : Change the World
25.Death Race
26.Definitely, Maybe
27.Despicable Me


28.Detroit Metal City
29.District 9

30.Doa yang Mengancam
31.Drag Me to Hell

32.Eat Pray Love

33.Facing the Giant
34.Fight Club
35.Final Destination 1
36.Final Destination 2
37.Final Fantasy Advent Children
38.Full It Off
39.Furry Vengeance
40.Giften Hand: The Ben Carson Story
41.Gila Bola
42.Green Hornet

43.Gridiron Gang
44.Growns Up

45.Hancock
46.Hannibal Rising
47.Harold and Kumar: Go to White Castle
48.Harold and Kumar: Escape from Guantanamo Bay
49.Hello Stranger

50.House of Wax
51.How to Train Your Dragon
52.Inception

53.Ink Heart
54.Into the Wild
55.Invincible
56.Iron Man
57.Journey to the Center of Earth
58.Juno

59.Kalau CInta Jangan Cengeng
60.Kawin Kontrak
61.Kick-Ass

62.Kungfu Panda
63.Legend of Guardian
64.Loat in Love
65.Love Phobia
66.Madagascar 2
67.Matching Jack
68.Meet the Robinsons
69.Megamind
70.My Sister’s Keeper


71.My Super ex-Girlfriend
72.Naga Bonar 2
73.Narnia: The Lion, the Witch, and the Wardrobe
74.Ninja Assasin

75.Number 23
76.Over the Hedge
77.Pan’s Labyrin
78.Paranormal Activity 2
79.Phobia 2

80.Passengers

81.Percy Jakson and the Lightning Thief
82.Perfume
83.Piranha

84.Poseidon
85.Remember me
86.Resident Evil 4
87.Sammy’s Adventure
88.Sang Pemimpi
89.Saw 7

90.Sexy Teacher
91.Shawsank Redemption
92.She’s out of My League

93.Shinobi
94.Shrek 4
95.Skyline
96.Shrek Forever After
97.Slumdog Millionaire
98.Step Up 3

99.Tangled-Rapunzel
100.The Answer man
101.The Blackout
102.The Dark Night

103.The Hangover
104.The Illusionist
105.The Karate Kid

106.The Social Network
107.The Spy Next Door
108.The Stranger
109.The Usual Suspect
110.Tokyo Gore Police

111.Toy Story 3

112.Transformer
113.Transporter
114.Tropic Thunder

115.Up

116.Wall Street Because Money Never Sleep

117.WatchMen

118.Where the Wild Things Are
119.Year One
120.Zombieland


Thursday, February 10, 2011

How to Manipulate your Smile

Hai. Sekarang giliranku kan?

Namaku Aaron. Ya, Dia memanggilku begitu. Kalian pasti tidak tahu, akulah yang paling bertanggung jawab atas semua senyum palsu yang sering dia munculkan.

Yeah, senyum palsu. Aku benci istilah itu. Bukan senyum palsu namanya jika seseorang berusaha tetap tersenyum ketika menghadapi masalah yang pelik. Bukan senyum palsu namanya jika seseorang tidak ingin merusak pandangan orang lain dengan tampang murungnya.

Senyum palsu itu tidak ada. Yang ada, hanyalah tetap tersenyum, apapun keadaanya.

Sekarang nilai sendiri, apakah senyum anak ini adalah senyum palsu.

Momen ini dimulai kamis kemarin, ketika temannya yang bernama Lia bertanya seperti ini :

“Zi, are you Ok?”

Jika kamu sebenarnya dalam keadaan yang tidak terlalu baik, menjawab pertanyaan seperti itu bukanlah perkara gampang. Kamu mungkin saja butuh berdialog dengan batinmu sendiri seperti yang anak ini lakukan.

Dia, Fauzi (F): Aku harus jawab apa?

Aku, Aaron (A): Katakan baik-baik saja. Kamu, baik-baik saja.

F: Oh ayolah, sejujurnya aku ingin dia tahu, aku ingin mereka tahu.

A: Untuk apa? Mereka tidak seharusnya tahu. Mereka tidak selalu harus jadi tempatmu membuang sampah. Mereka teman baikmu bukan?

F: Aku tidak bicara tentang tempat sampah

A: Apa yang kamu ceritakan itu sampah. Sampah batin. 

F: Aku tetap tidak akan berbohong. Kepada diriku sendiri atau orang lain. Aku kacau.

A: Berhentilah mencari perhatian, teman. Berhentilah menjadi manja. Itu buruk sekali.

F: Jadi berbohong tidak jauh lebih buruk?

A:Entahlah, tapi, oke, kamu tidak perlu berbohong. Tetapi kamu juga tidak perlu memancing rasa prihatin orang lain dengan tampang lesu seperti itu. Boleh saja mengakui kalau kamu hancur, kacau, rusak, tetapi tidak dengan wajah seperti itu.

F: Memaksakan senyum lagi? Oh NO.

A: Memaksakan keadaan agar lebih baik, itu tepatnya.

F: It’s useless.

A: Jadi kamu mau apa? Mengatakan bahwa kamu tidak sehat dengan tampang murung? Dengan menangis? Apa kamu gay?

F: I’m not Crying. I’m not Gay.

A: Kalau begitu, jadilah laki-laki.

F: Memaksakan senyum itu membuat wajahku terlihat aneh. Mestinya kamu tahu.

A: Bagaimana ketika kamu memelas? Wajahmu bahkan jauh lebih aneh dari definisi aneh itu sendiri. 
F: Jadi aku harus apa?

A; Hanya tersenyum, oke?

F: Aku bahkan sudah lupa bagaimana caranya.

A: Omong kosong apa itu? 

F: Yeah, nyatanya memang begitu.

A: Baik, kamu mungkin lupa bagaimana caranya tersenyum, itu cengeng, tapi jangan jadi lebih cengeng lagi dengan mengatakan kalau kamu lupa bagaimana caranya mengangkat mulut.

F: Mengangkat mulut?

A: Just do it!

Inilah yang dia lakukan ketika temannya yang bernama Lia bertanya seperti ini :

“Zi, are you Ok?”

Dia mengangkat mulutnya, dan mengatakan:

“No, heh.”

Temannya itu tersenyum yang tidak bisa diartikan.

“Ya, Kelihatan memang.” Katanya.

Dia mengangkat mulut lagi. Di keadaan sulit dan penuh masalah, mengangkat mulut itu berarti tersenyum. Kemudian dia berlalu meninggalkan temannya itu.

F: Kamu lihat itu? Kegiatan mengangkat mulut ini bukannya menyembunyikan betapa murungnya aku, malah membuat dia jadi tahu kalau aku sedang mengalami sesuatu.

A: Menyembunyikan apa? Sejak awal aku tidak menyuruhmu berusaha tersenyum untuk menyembunyikan sesuatu. Baik itu kemurungan, kesedihan, atau apapun.

F: Kalau begitu, untuk apa mengangkat mul…maksudku, untuk apa senyum tadi itu?

A: Camkan ini, Senyum itu bukan untuk menunjukan kepada orang-orang bahwa kamu baik-baik saja, senyum itu, sesungguhnya hanya untuk menujukan, bahwa sekalipun kamu sedang sedih, sekalipun kamu sedang dalam kekacauan, kamu tetap berusaha untuk tersenyum.

Apakah anak itu tersenyum palsu? I dunno. Tapi kelihatannya giliranku hampir habis.

Ini untuk kata-kata penutup.

Namaku Aaron. Entahlah, dia memanggilku begitu. Aku adalah dalang dari semua sikap sok kuat dan sok tegarnya. Terlihat menjengkelkan bukan? Tapi percayalah, dengan mencoba menjadi kuat, kamu akan kuat. Dengan mencoba menjadi orang tegar, kamu akan tegar. Dan dengan mencoba tersenyum di setiap masalah yang kamu hadapi, kamu akan melihat harapan.

Trust me.


11 Februari 2011

Friday, February 4, 2011

My Paradoks

Kebiasaanku mengamati hal-hal kecil di sekitar mempertemukanku dengan orang-orang yang mempunyai kebiasaan unik. Salah satunya adalah Dia. Dari luar, Dia sama saja seperti remaja yang lain. Suka musik, gemar nonton film, dan punya ketertarikan besar terhadap lawan jenis. Kebiasaanku mengamati hal-hal kecil di sekitar, membuatku tahu kalau Dia itu sedikit berbeda. Bukan perbedaan penting, tapi bagiku cukup unik.

Pernah suatu hari ketika dia terserang demam film. Setiap harinya dia menonton lebih dari tiga film. Berburu dvd film malah menjadi rutinitas yang sejajar dengan makan ataupun tidur. Dia menjadi kacau. Paling tidak, kekacauan itu bisa dilihat dari caranya menghabiskan waktu. Saat penyakit kecanduan filmnya hampir tidak tertolong lagi, salah seorang cewek yang aku tahu adalah temannya, mengirimi dia sebuah tweet nasehat sederhana di twitter seperti ini :

“selamat pagi @dia no more movies for today, please!”

Mungkin tweet itu sebagai respon terhadap hastag #nowwatching dari dia yang sering wara-wiri tiap malam. 

Setelahnya, apa yang terjadi? Dia perlahan berubah. Sejauh yang aku amati, baik dari topik pembicaraannya yang tidak melulu tentang film lagi, hingga hashtag #nw nya yang hanya muncul di malam-malam libur.

Apakah dia menganggap serius pesan temannya di twitter itu atau dia hanya kehabisan film untuk ditonton? Masih terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan.

Aku tetap pada kebiasaanku mengamati hal-hal kecil. Tidak terlalu penting memang tapi kebiasaan tidak harus selalu penting bukan? Aku juga punya kebiasaan tidak penting lain seperti menggumam “Ckckck” kepada teman-temanku yang sering terlambat masuk kuliah. Kebetulan, hari ini dia juga terlambat. Berdiri di depan pintu dengan wajah memelas berharap diizinkan masuk oleh dosen. Dan jika izin itu sudah didapat, ia kemudian masuk tergopoh-gopoh sambil melihat sekililing, mencari bangku yang kosong. Aku baru saja bersiap untuk mengguman “ckckck” ketika dia melewati bangku tempatku duduk sebelum aku mendengar salah satu temannya mengucapkan sesuatu, dengan wajah yang sangat tidak mengenakan.

Sepintas aku melihat dia melempar senyum. Aku melihat senyum itu sebagai senyum penuh berbagai kemungkinan.Bisa saja dia tersenyum karena merasa senang masih ada yang peduli terhadapnya dengan mempertanyakan keterlambatannya itu, atau tersenyum miris, senyum yang dipasang untuk menghindari rasa malu kepada teman sendiri karena tidak disiplin. Buat orang-orang yang hidupnya terlalu serius, tidak disiplin bisa mempunyai arti yang sama dengan “pecundang”.


“Kok telat?” seharusnya itu kalimat pertanyaan biasa. Dua kata lazim yang tidak baku. Tapi lihat efek dari kalimat pertanyaan sederhana itu jika diarahkan ke orang yang tepat. Terhitung semenjak pertanyaan itu dilontarkan, jumlah pria yang mengetok pintu ketika kuliah pagi berlangsung jadi berkurang satu. 

Apakah kalimat yang dilontarkan itu begitu penting? Ataukah orang yang melontarkan pertanyaan itulah yang penting? Who know? Yang jelas, aku kini menyadari bahwa ada seseorang yang mulai berusaha untuk menjadi disiplin hanya gara-gara sebuah kalimat yang mungkin buat sebagian orang, tidak perlu terlalu dipikirkan.
Kejadian itu membuatku menyebutnya dengan julukan, “laki-laki yang punya kebiasaan mengingat nasehat-nasehat kecil.”
Sejujurnya, aku ingin sekali berbicara dengan orang-orang unik seperti dia. Ingin bertanya, apakah hanya sebuah nasehat kecil nan sederhana yang bisa membuatnya mengambil langkah maju. Bagaimana dengan mediator perubahan yang lain, seperti quote-qoute bagus di buku atau film.

“Jadi, apa yang membuatmu mengingat nasihat-nasihat kecil orang dengan sangat baik dan mengaplikasikannya?” tanyaku pada suatu kesempatan di taman kampus. Di depan kami ada beberapa perempuan yang sedang asyik ngobrol. Dari tadi aku melihatnya memandangi salah satu dari mereka.

“Well, sebenarnya, aku tidak mengingat kata-kata, atau mengingat nasehat.” Jawabnya.

Seperti yang telah aku cemaskan sebelumnya, aku terlalu cepat mengambil kesimpulan.

“Aku hanya, entah mengapa, suka menghargai perhatian orang. Baik perhatian manis ataupun skeptis.” Lanjutnya.

“Oh, menghargai perhatian? Hanya perhatian dalam bentuk kata-kata sajakah?” Tanyaku lagi.

“Lihat ini.” Katanya. Bangkit dari tempat duduk dan menghampiri (atau hanya melewati) sekumpulan perempuan yang dari tadi ia pandangi. Aku mengikutinya dari belakang.

Aku melihat dia melewati sekumpulan perempuan itu dan memandangi salah satu dari mereka. Dan dia tersenyum ketika perempuan yang ia pandangi dengan tatapan hangat itu melambaikan tangan. Hanya melambaikan tangan.

“Selanjutnya kamu hanya tinggal melihat” katanya.

“Lihat apa?” tanyaku bingung. Melihat berpindah pindah antara dia dan perempuan itu.

“Melihat bagaimana senyum ini bertahan sepanjang hari hanya karena lambaian tangan dari perempuan yang matanya minus 1,5 itu.”

Kata-katanya membingungkan. 

Yah, kebiasaanku mengamati hal-hal kecil disekitar tidak hanya mempertemukanku dengan banyak orang yang mempunyai kebiasaan unik, tetapi juga membuatku sadar, ada banyak orang yang kelihatannya baik-baik saja, ternyata justru sangat membutuhkan perhatian. 
Dan menunjukan kebutuhannya akan perhatian dengan menghargai setiap perhatian kecil yang diberikan kepadanya.


Wallpaper Download